Jakarta - Alhamdulillah, tanpa terasa hari ini, Sahabat semua telah memasuki hari ke-10 menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Bulan yang selalu dirindukan ini bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tetapi juga momen terbaik untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.
Ramadhan memang selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan kehangatan. Sejak malam pertama Ramadhan, suasana langsung terasa berbeda. Masjid dan musholla mulai ramai, Jemaah yang mendatangi masjid maupun musholla bersiap untuk melaksanakan sholat tarawih, suara tadarus terdengar lebih sering, dan warga saling berbagi takjil menjelang waktu berbuka puasa.
Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang mampu menjalankannya. Tetapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar tidak makan dan minum. Puasa mengajarkan kita tentang kesabaran, keikhlasan, dan rasa empati kepada sesama. Saat menahan lapar seharian, kita jadi lebih peka terhadap orang-orang yang setiap hari mungkin merasakan hal yang sama. Dari situlah tumbuh rasa syukur dan kepedulian.
Bagaimana Kita Memaknai Shalat Tarawih?
Sahabat, ada ibadah yang menjadi highlight di bulan suci Ramadhan yaitu Shalat Tarawih yang merupakan ibadah sunnah, dimana bila dikerjakan, selain menambah pahala, shalat tarawih juga membawa ketenangan hati dan menjadi momen spesial untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Memaknai shalat Tarawih di bulan suci Ramadhan adalah menjadikannya momen penyucian diri dan peningkatan iman melalui ibadah malam yang khusyuk. Tarawih bukan sekadar rutinitas ritual, melainkan sebagai wujud qiyamul lail (menghidupkan malam) yang dijanjikan ampunan dosa bagi yang mengerjakannya dengan iman dan ikhlas. Dengan demikian , shalat tarawih merupakan sarana untuk mendapatkan ampunan dosa-dosa terdahulu serta mempererat persaudaraan umat melalui jamaah .
Dengan memaknai Tarawih sebagai kebutuhan spiritual, ibadah ini akan mendatangkan ketenangan, ketakwaan, dan keberkahan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban sunnah, untuk itu Sahabat Mia Amiati Vlog semuanya, harus menjaga Niat dari awal hingga akhir Ramadhan untuk menjaga konsistensi dan kekhusyukan rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan.
Apa yang Menjadi Keutamaan Shalat Tarawih?
|
Baca juga:
Prof. Mia Amiati: INACRAFT 2026
|
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Setiap muslim berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadahnya, baik di siang hari melalui puasa maupun di malam hari dengan qiyamul lail. Salah satu ibadah malam yang sangat istimewa adalah shalat Tarawih. Keutamaan Shalat Tarawih bukan hanya terletak pada pahala yang besar, tetapi juga pada kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT di bulan yang mulia ini.
Sebagai umat Islam, memahami Keutamaan Shalat Tarawih akan menumbuhkan semangat dan keistiqamahan dalam menghidupkan malam-malam Ramadhan. Ibadah ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sarana untuk membersihkan hati, memperkuat iman, serta memperbaiki diri secara spiritual.
Secara harfiah, Tarawih juga dapat diartikan sebagai Waktu Istirahat Jiwa (Tarwihah), secara etimologi, Tarawih berasal dari kata tarwihah yang berarti istirahat. Ini adalah momen jeda dari rutinitas duniawi untuk beristirahat secara rohani, menenangkan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Shalat Tarawih juga bisa menjadi sarana Muhasabah (Refleksi Diri) dimana Shalat Tarawih menjadi ajang refleksi atas semuaq apa yang telah kita perbuat, memperbanyak doa, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an untuk memperbaiki diri setelah berpuasa di siang hari.
Ketika Shalat Tarawih dilaksanakan secara berjamaah, maka Shalat Tarawih menjadi Simbol Persatuan Umat, dimana Shalat Tarawih yang dilaksanakan secara berjamaah menciptakan kebersamaan dan persaudaraan di masjid-masjid selama sebulan penuh.
Salah satu Keutamaan Shalat Tarawih yang paling dirindukan oleh setiap ummat muslim adalah diampuninya dosa. Ramadhan adalah momentum taubat, dan Tarawih menjadi salah satu sarana terbaik untuk kembali kepada Allah SWT.
Shalat Tarawih adalah bagian dari qiyamul lail yang dikhususkan pada bulan Ramadhan. Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad beliau bersabda:
Barang siapa yang mengerjakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi landasan utama Keutamaan Shalat Tarawih Ketika seorang muslim melaksanakannya dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, maka Allah SWT menjanjikan ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Betapa besar rahmat Allah di bulan yang suci Ramadhan yang penuh rahkmat dan ampunan ini.
Pengampunan dosa yang dijanjikan bukanlah sesuatu yang ringan. Ia adalah anugerah besar bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Karena itu, memahami Keutamaan Shalat Tarawih seharusnya mendorong kita untuk tidak melewatkan satu malam pun tanpa menghidupkannya.
Ketika seorang muslim berdiri dalam shalat Tarawih, membaca ayat-ayat Al-Quran, mendengarkan imam melantunkan firman Allah, maka hatinya perlahan-lahan dilunakkan. Air mata bisa menetes tanpa disadari. Di situlah ruh merasakan ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh kenikmatan dunia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran bahwa orang-orang beriman adalah mereka yang sedikit tidur di malam hari dan memohon ampun di waktu sahur (QS. Adz-Dzariyat: 1718). Ayat ini menjadi pengingat bahwa ibadah malam memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.
Dengan istiqamah melaksanakan Tarawih sejak awal Ramadhan hingga akhir, Insya Allah kita tidak akan melewatkan Lailatul Qadar. Setiap rakaat yang kita dirikan menjadi saksi kesungguhan kita dalam mencari rahmat Allah. Selain bernilai ibadah personal, Keutamaan Shalat Tarawih dan Witir juga terlihat dari sisi sosial. Masjid-masjid dipenuhi jamaah. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berkumpul dalam satu saf, suasana ini menumbuhkan ukhuwah Islamiyah. Saling menyapa, berbagi takjil, mendengarkan tausiyah singkat sebelum atau sesudah Tarawihsemua menjadi bagian dari keberkahan Ramadhan.
Keutamaan Shalat Tarawih juga dapat melatih disiplin dan kesabaran.
Melaksanakan Tarawih setiap malam selama sebulan penuh bukanlah perkara mudah. Ada rasa lelah setelah bekerja seharian, ada kantuk yang menyerang, ada godaan untuk beristirahat di rumah. Namun justru di sinilah letak pendidikan spiritualnya. Seorang muslim belajar mengatur waktu, mengutamakan akhirat di atas kenyamanan dunia, dan berjuang melawan hawa nafsu.
Memahami Keutamaan Shalat Tarawih dan Witir bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjadi bahan renungan dan motivasi. Setiap rakaat yang kita dirikan adalah investasi akhirat. Setiap sujud adalah bentuk penghambaan yang tulus kepada Allah SWT. Konsistensi selama Ramadhan diharapkan membentuk kebiasaan baik yang berlanjut setelah Ramadhan usai. Jiwa yang terbiasa bangun malam akan lebih mudah melaksanakan ibadah kepada Allah di bulan-bulan berikutnya dengan lebih baik lagi.
Ramadhan adalah kesempatan yang belum tentu terulang tahun depan. Karena itu, Sahabat Mia Amiati Vlog, jangan biarkan malam-malamnya berlalu tanpa Tarawih Jika tidak mampu berjamaah di masjid karena uzur atau hal lain, kita tetap bisa melaksanakannya di rumah bersama keluarga.
Shalat Tarawih di Mesjid Raya Al-Jabbar
Masjid Raya Al-Jabbar atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Al-Jabbar, merupakan ikon baru Provinsi Jawa Barat.
Lokasi Masjid Al-Jabbar ada di Jalan Cimencrang No.14, Cimenerang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat. Masjid ini dibangun di atas lahan seluas 26 hektar dan memiliki kapasitas sekitar 60.000 jemaah.
Masjid Al-Jabbar diresmikan pada tanggal 30 Desember 2022 oleh Ridwan Kamil yang saat itu menjadi Gubernur Jawa Barat dan telah menjadi salah satu destinasi wisata religi terkenal di Bandung.
Pada saat peresmian Mesjid Al Jabbar, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, groundbreaking pembangunan mesjid dilakukan di saat kepemimpinan Gubernur Ahmad Heryawan pada Tahun 2017. Ia masih menjabat sebagai Walikota Bandung sekaligus bertindak sebagai arsitek mesjid tersebut.
“Oleh takdir-Nya, saya sebagai Walikota saat itu juga sebagai arsiteknya kemudian menjadi gubernur. Ini takdir yang tidak biasa, dari merencanakan sampai mengambil keputusan hingga hari ini, ” ujarnya.
Menurutnya, nama masjid memiliki latar belakang matematis, Aljabar atau Al Jabbar dan juga Jabbar yang bisa dikaitkan pula dengan singkatan dari Jawa Barat. Selain itu, terdapat 27 pintu yang menyimbolkan 27 kabupaten dan kota se-Jawa Barat yang disimbolkan oleh desain batik setiap Kota dan Kabupatennya.
“Di area bawah masjid terdapat juga museum digital yang berisi materi perjalanan peradaban Islam di Indonesia, khususnya Jawa Barat, ” ujarnya.
Masjid yang juga populer dengan sebutan ‘Masjid Terapung’ ini juga dikelilingi danau retensi sebagai penyerap air agar tidak terjadi banjir yang datang dari utara menuju selatan Kota Bandung. Seluruh wara Jawa Barat menyambut positif atas hadirnya Mesjid Raya Al Jabbar dan bersyukur Jawa Barat memiliki masjid yang sangat representatif dan memuat khazanah perjalanan umat Islam di Indonesia sebagai ikon kebanggan masyarakat Jawa Barat.
“Masjid ini merupakan mahakarya Gubernur Jawa Barat. Sangat indah dan megah menjadi kebanggaan bagi masyarakat Jawa Barat. Insya Allah lebih makmur lagi, memberikan spirit untuk beribadah dengan membumikan Al-Qur’an.
Fungsi Masjid Al-Jabbar tidak hanya sebagai tempat ibadah umat Muslim, melainkan juga sebagai tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat.
Sejak diresmikan pada akhir 2022 silam, Masjid Al-Jabbar langsung menyedot animo pengunjung dalam jumlah besar. Pengunjung yang datang pun tidak hanya berasal dari daerah Bandung dan sekitarnya, melainkan juga dari luar Bandung bahkan dari luar negeri. Pengunjung Masjid Al-Jabbar terbilang tinggi, apalagi pada hari libur, jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu orang.
Apa Latar Belakang Belakang Dibangunnya Masjid Al-Jabbar
Latar belakang pembangunan Masjid Al-Jabbar didasari oleh kebutuhan warga Jawa Barat akan masjid raya tingkat provinsi. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat kemudian menginisiasikan pembangunan Masjid Al-Jabbar.
Menariknya, arsitektur Masjid Al-Jabbar dirancang langsung oleh Ridwan Kamil yang saat itu masih menjadi Walikota Bandung, Ridwan Kamil memang memiliki latar belakang sebagai seorang arsitek. Proses perancangan Masjid Al-Jabbar dimulai sejak 2015, dan baru dibangun pada Desember 2017.
Masjid Al-Jabbar dibangun pada lahan seluas 26 hektare, dengan total luas bangunan mencapai 99 x 99 meter persegi. Angka 99 diambil berdasarkan jumlah Asmaul Husna.
Arsitektur Masjid Raya Al-Jabbar dirancang dengan memadukan konsep arsitektur modern kontemporer menggunakan aksentuasi masjid Turki. Adapun secara dekorasi, Masjid Raya Al Jabbar dipenuhi dengan beragam karya seni dari berbagai bahan. Dan yang menjadi sangat luar biasa adalah pembuatan kerajinan tangan tersebut melibatkan ratusan perajin lokal sehingga dapat menghidupkan UMKM yang ada di wilayah Jawa Barat.
Di dalam masjid ada mozaik untuk paviliun wudhu dan di bawah lantai mezanin. Kemudian, lampu gentur di bawah mezanin, kerajinan tembaga di relung, kaca patri untuk koridor, kuningan di bagian railing dan mihrab, serta kayu jati untuk railing dan rak Al-Quran.
Elemen dekorasi pada masjid juga cukup banyak menonjolkan dan merepresentasikan kekhasan Jawa Barat. Salah satunya keberadaan 27 relung di area dalam masjid, angka 27 pada relung tersebut mencerminkan jumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Di setiap relung juga dihias dengan motif batik dari ke-27 kota dan kabupaten di Jawa Barat itu.
Masjid Al-Jabbar tergolong sebagai masjid terapung, sebab bangunan utamanya dibangun di atas air.
Masjid ini juga memiliki empat menara setinggi 99 meter. Menara tersebut dihiasi lampu berwarna biru, kuning dan ungu, yang terlihat sangat memukau pada malam hari.
Selain itu, pada bagian puncak masjid terdapat makara yang didesain dengan elemen tusuk sate, seperti yang terdapat pada Kantor Gubernur Jawa Barat. Makara tersebut dihias dengan lima bola pada tusuk sate, mengikuti lima rukun Islam. Dengan kata lain, Masjid Al-Jabbar memiliki beberapa keunikan, antara lain:
- Arsitektur modern kontemporer dengan aksentuasi masjid Turki
- Bangunan utama masjid memiliki luas 99 x 99 meter, mengacu pada angka Asmaul Husna
- Masjid ini dikelilingi oleh danau buatan yang berfungsi sebagai penanggulangan banjir
- Kapasitas masjid sekitar 60.000 jemaah, dengan 33.000 di antaranya berada di dalam masjid
- Terdapat 27 relung di area dalam masjid, yang mencerminkan jumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat
- Masjid ini memiliki empat menara setinggi 99 meter, yang dihiasi lampu berwarna biru, kuning, dan ungu.
Mengakhiri tulisan ini, perlu Sahabat ketahui bahwa betapa kita merasa semakin kecil dan tidak berarti apa-apa ketika melaksanakan shalat Tarawih di tengah-tangah kemegahan masjid Al Jabbar dan hanya berharap mendapatkan magfirah dari Allah yang Maha Pengampun dan maha Penerima Tobat.
Untuk itu Sahabat, marilah kita kembali merenungi Keutamaan Shalat Tarawih sebagai karunia besar dari Allah SWT. Ibadah ini adalah pintu ampunan, sarana mendekatkan diri kepada-Nya, jalan meraih Lailatul Qadar, serta media membangun kebersamaan umat. Semoga Allah memberikan kekuatan dan keistiqamahan kepada kita untuk menghidupkan setiap malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan akan ridha-Nya.
Dan jangan lupa Sahabat, mari kita sempurnakan malam-malam Ramadhan tidak hanya dengan shalat Tarawih saja tetapi juga dengan memperbanyak sedekah dan infak sebagai bukti syukur atas kesempatan beribadah. Salurkan sedekah terbaikmu agar pahala Ramadhan semakin berlipat.@Red.
Oleh: Prof. (HCUA) Dr. Mia Amiati, S.H., M.H., CMA., CSSL.

Octavia Ramadhani