Lawu Ds (09/02/2026) - Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu Ds mendukung pelaksanaan Java-Wide Leopard Survey (JWLS) atau Survei Nasional Macan Tutul Jawa yang digagas oleh Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan Yayasan Save Indonesian Nature & Threatened Species (SINTAS) Indonesia di kawasan Hutan Gunung Lawu, Kabupaten Magetan, Senin (9/2/2026).
Kegiatan JWLS dilaksanakan melalui pemasangan camera trap atau kamera pemantau satwa yang dilengkapi sensor gerak di sejumlah titik yang terindikasi sebagai habitat macan tutul jawa (Panthera pardus melas).
Survei ini merupakan bagian dari upaya pencapaian Indikator Kinerja Program (IKP) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024, khususnya terkait inventarisasi dan verifikasi kawasan bernilai keanekaragaman hayati tinggi.
Kegiatan JWLS dikoordinasikan oleh Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik (KKHSG) bekerja sama dengan Yayasan SINTAS Indonesia. Survei ini bertujuan untuk mengetahui struktur populasi, sebaran, serta preferensi mangsa macan tutul jawa sebagai dasar penyusunan Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) dan pembaruan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Macan Tutul Jawa yang akan berakhir pada tahun 2026.
Administratur Perhutani KPH Lawu Ds, Adi Nugroho, menyampaikan komitmennya dalam mendukung program tersebut. “Petugas kami siap membantu pengamanan dan pemantauan camera trap yang terpasang, serta melibatkan masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), ” ujarnya.
Ia menambahkan, sebanyak 80 unit camera trap dipasang di wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Selatan dan BKPH Lawu Utara pada 40 titik pengamatan.
Sementara itu, Field Coordinator JWLS Wilayah Timur, Ummi Farikhah, mengapresiasi dukungan Perhutani KPH Lawu Ds dalam mendampingi pelaksanaan survei di lapangan.
“JWLS bertujuan memperoleh data dasar kelestarian dan memetakan struktur populasi macan tutul jawa di seluruh habitat yang tersisa di Pulau Jawa. Kami berharap upaya ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendukung pendanaan jangka panjang konservasi, ” ungkapnya.
Ia menjelaskan, JWLS merupakan kegiatan multipihak yang melibatkan pemerintah, akademisi, sektor swasta, badan usaha milik negara (BUMN), praktisi, media, serta mitra lokal. Secara nasional, survei dilaksanakan pada 22 bentang alam, mulai dari Rawa Danau di Banten hingga kawasan Ijen, Raung, dan Banyuwangi.
Pelaksanaan pemasangan camera trap di wilayah KPH Lawu Ds telah dimulai sejak 5 Februari 2026 hingga selesai, dengan melibatkan Tim JWLS, Yayasan SINTAS, petugas Unit Pelaksana Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (UPT BBKSDA) Jawa Timur, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Taman Hutan Raya (Tahura) K.G.P.A.A. Mangkunegoro I Karanganyar, serta petugas Perhutani BKPH Lawu Selatan.@Red.

Octavia Ramadhani